Awalnya saya ragu untuk datang ke sebuah konser musik indie yang digagas oleh komunitas Salihara ini. Ada ketakutan tersendiri saat menyerap musik mereka nanti, kemampuan otak saya tidak bisa menerima dengan baik musik-musik yang mereka mainkan saking terlalu beratnya mungkin. Let’s see what happened!
Kesan kaku semakin bertambah saat saya bertemu dengan vokalis dari Melancholic Bitch yang berpakaian formal dengan jas lengkap. Konservatif, stagnan, dan monoton, menjadi ekspektasi saya pada pertunjukkan mereka malam itu. Tepat jam 8 malam, gong ketiga telah dibunyikan dan beberapa penonton sudah berada di kursi mereka masing-masing. Acara dimulai oleh Risky Summerbee and The Honeythief. Dentingan suara piano berhembus dari arah panggung, sekilas mirip dengan irama lagu minang yang sedang mengiringi kedua mempelainya di sebuah resepsi pernikahan. Saya seperti sedang menonton Ballads Of The Cliche dengan sedikit sentuhan blues. Satu jam terlewati dan penonton sangat terhibur dengan karya-karya hebat mereka, apalagi ada 1 lagu yang diselingi dengan catatan pinggir dari Gunawan Muhammad sebagai monolognya.
Setelah jeda 15 menit, acara berlanjut ke penampilan berikutnya, Melancholic Bitch. Band ini benar-benar memainkan musik dengan komposisi yang menabrak batas. Sesuai dengan nama bandnya, 3 kata yang melekat untuk mendeskripsikan mereka : pedih, gelap, dan galau. Lagu pertama langsung digebrak dari salah satu karya sastrawan terkenal Indonesia, Sapardi Djoko Damono yang berjudul Jembatan Golden Gate. Ugo menyanyikan lagu itu layaknya frontman yang sedang bersajak. Lagu berikutnya dan cerita berlanjut ke Balada Joni dan Susi. Lagu per lagu mereka bawakan seperti cerita bersambung, ada episodenya.
Kejutan tidak berhenti sampai disitu, di pertengahan acara, Ugo mengundang Silir Pujiwati, seorang sinden terbaik Indonesia untuk bernyanyi bersama. Kolaborasi ini telah membuat musik mereka yang suram menjadi sedikit lebih manis dengan adanya lengkingan suara dari pesinden ini. Lucu dan absurd, terutama saat dia menjembatani cerita di lagu pertama ke yang kedua. Tidak ada relevansinya memang, tapi sangat kontemporer.
Jadi, kalau boleh menganalogikan, band ini seperti sastrawan yang sedang beraksi menjadi musisi. Hasilnya, bernyanyi sambil bernarasi. Akultrasi yang berhasil karena lirik-liriknya amat sangat berisi. Saya pikir sudah saatnya Jakarta diberikan ruang sebesar-besarnya untuk melek dengan suguhan musik-musik seperti mereka. Paling tidak, ada keberanian dari kita untuk membelok dari mainstream yang merajalela akhir-akhir ini.
By: Rezzy Nizawati Rachmansyah
- Geeks Bible Guest Contributor.
- Announcer of 101.4 Trax FM Jakarta.
Catch her on: Facebook | Twitter











