Imogen Heap tidak pernah kami pandang sebelah mata. Video presentasinya telah beredar di Youtube, dan jelas Imogen Heap telah memukau jutaan viewers. Radio dimana saya bekerja (OZ Radio Jakarta) akhirnya mempertemukan saya dengan musisi mengagumkan ini. Imogen sangat ramah, bersahaja, dan rendah hati. Bertolak belakang dengan tinggi badannya yang membuat saya dan 3 reporter lain di ruangan interview tampak seperti kurcaci (terlebih saya sendiri).
Konsernya berlangsung membius. Hampir 5000 pasang mata dibuat merinding dalam arti sebenarnya! Saya, tidak dapat berkata-kata lagi, ketika vokal, kemampuan bermusik, interaksi, proyeksi teknologi dalam sebuah dekorasi, menyatu dalam satu panggung di Kartika Expo Centre, Balai Kartini, Jakarta. First train home, single jagoan album terakhirnya menjadi lagu pembuka, sambil berujar, bahwa dia sama sekali tidak menyangka, bahwa namanya dikenal di Indonesia.
Pohon dan piano kaca, lengkap dengan mapping laser tiga dimensi yang diproyeksikan menjadikan penampilannya semakin sempurna. Little Bird, The Fires, dan Canvas, yang mungkin terdengar cukup asing bagi sebagian besar penonton, tidak mengurangi antusiasme kami. Setelah menjadi jagoan panggung sendirian, Imogen mengundang additional player-nya naik ke atas panggung. Tidak hanya itu, Rahman Noor, cellist asal ibukota hasil audisi-pun melengkapi penampilan wanita asal Inggris ini.
Terlepas dari kemampuan bermusiknya, Imogen Heap adalah entertainer yang menyenangkan. She’s funny (in a cute way). Dia jujur ketika mengatakan bahwa dia kelelahan karena panggung yang terlalu besar. Dia jujur ketika dia mengatakan, “ini lagu terakhir kami,” dia memberikan gesture dalam-tanda-petik kepada kami. Cara dia menyapa kami, curhat tentang lagu-lagu yang dibawakan, seolah kami sedang menyaksikan Imogen latihan di studio bawah tanah rumahnya. She’s great!
Entah berlebihan atau tidak. Bagi saya, ini merupakan konser terbaik sejak awal tahun ini. Bahkan mungkin ini merupakan salah satu yang terbaik sepanjang pengalaman saya menonton konser. Sepanjang perjalanan pulang, saya nyaris tidak mendengar celaan. Semoga tulisan ini tidak berlebihan. Bagaimana menurut anda?
By: Kautsar Ikrami
Photo: Dokumentasi 90.8 FM OZ Radio Jakarta

















