Deftones Live in Jakarta Report

February 13, 2011

Setelah lebih dari 1 dekade menunggu kedatangan mereka, akhirnya Deftones dipastikan akan tampil di Jakarta tanggal 8 Februari 2011. Tentunya tidak hanya saya seorang yang berteriak kegirangan mendengarnya, ada ribuan orang lain diluar sana yang juga bersuka cita menyambut konser Deftones di Jakarta.

Akhirnya tiba juga hari yang dinanti. Setelah berhasil mengurus izin untuk pulang kerja lebih cepat, saya bergegas menuju lokasi konser Deftones di Tenis Indoor, Senayan. Tiba di venue, nampak band 7 Kurcaci sedang beraksi di welcoming stage. Sayangnya sound yang keluar terlalu tajam dan menusuk kuping. Meskipun demikian, 7 Kurcaci lumayan menghibur untuk mereka yang datang lebih awal.

Pukul 8 kurang sedikit, saya memutuskan untuk masuk ke venue. Dinginnya AC didalam venue ternyata cukup menusuk. Area festival pun belum terlalu ramai. Namun di tribun tengah sudah mulai dipenuhi penonton. Setelah celingak-celinguk, akhirnya saya menemukan spot yang cukup ok. Walaupun sempat disindir lokasi tribun ini kurang rock and roll, saya tidak peduli. Disini bebas copet, tidak perlu berdesakan, jadi saya bisa menikmati konser dengan tenang.

Setelah hampir 30 menit menunggu, akhirnya keluar juga satu persatu personil Deftones. Sergio Vega (session bassist), Stephen Carpenter (gitar), Abe Cunningham (drum) dan Chino Moreno (vokal). Seperti yang kita ketahui, bassist mereka Chi Cheng masih terbaring sakit karena kecelakaan. Tanpa basa-basi, lagu Birthmark dari album Adrenaline (1995) menghajar telinga. Disusul dengan Engine #9, Be Quiet and Drive (Far Away). Pemandangan yang menakjubkan, akhirnya bisa menyaksikan mereka tampil live dengan mata kepala sendiri. Tak bisa dipungkiri, vokalis Chino Moreno memang sosok yang kharismatik. Gestur nya diatas panggung sangat menarik dan atraktif.

Lagu selanjutnya My Own Summer (Shove It), tampak DJ Frank Delgado mengisi posisinya dibalik booth DJ. Kemudian menyusul Lhabia, Around The Fur, Digital Bath dan Knife Party dari album Around The Fur (1997) dibawakan. Di beberapa lagu, Chino Moreno ikut bermain gitar. Sempat ada kejadian menarik, beberapa kali dia salah note dan disambut tawa penonton. Salah main gitar malah jadi sesuatu yang menghibur, cuma dia yang bisa!

Selanjutnya mereka membawakan lagu-lagu dari album Self-titled mereka. Berturut-turut Hexagram, Minerva dan Bloody Cape dibawakan. Di sela-sela lagu, Chino menyempatkan meneguk bir yang tidak lain adalah bir Bintang. Beberapa kali dia berucap, “Bintang, very good!” dan nampak sangat menikmati. Mungkin produsen bir Bintang perlu merekrutnya sebagai brand ambassador?

Repertoar berikutnya diambil dari album terbaru mereka, Diamond Eyes (2010). Haduh, merinding rasanya menyaksikan Royal yang merupakan salah satu lagu favorit saya dari album tersebut dibawakan secara langsung. Disambung dengan Sex Tape, yang berbeda nuansa. Ethereal mengambang dan membawa ke dimensi lain. Benar-benar eargasmic! Chino memang vokalis yang ciamik, jeritan, lengkingan, bisikan dan lolongannya malam itu, perfect!

Personil lainnya pun tampil maksimal. Gebukan drum Abe Cunningham sangat solid dan tanpa cela. Gitaris Stephen Carpenter mampu menghadirkan sound gitar yang berat dan detail. Bassist Sergio Vega, yang walaupun beberapa kali sound bassnya timbul tenggelam,  juga tampil atraktif. Tidak ketinggalan aksi DJ Frank Delgado, yang memberikan nuansa berbeda dengan keyboard dan turntable nya… memberikan ambience yang makin memperkaya musik Deftones.

Tak terasa, sudah 1 jam lebih mereka tampil. Sebelum mereka rehat sejenak. Lagu terakhir adalah Passenger dari album White Pony (2000). Lagu yang seharusnya dibawakan secara duet dengan Maynard James Keenan vokalis Tool/A Perfect Circle, mampu dibawakan dengan apik. Lagi-lagi, goosebumps! Setelah itu, lampu panggung dimatikan. Seperti biasa, penonton berteriak “We want more!” berulang kali. Akhirnya tak lama kemudian, mereka kembali mengisi panggung dan membawakan Roots dari album Adrenaline, disambung dengan 7 Words. Suasana pecah, karena Chino turun dari panggung dan naik ke atas barikade bernyanyi ditopang penonton. Klimaks!

Akhirnya tuntas sudah penampilan Deftones. Walaupun ada sedikit rasa kecewa, karena lagu Back To School tidak dibawakan. Tapi tidak mengapa, pengalaman menyaksikan mereka live secara langsung lebih berarti dan terasa bagai mimpi. Puas, haru, senang sepertinya dirasakan oleh mayoritas penonton yang datang malam itu. Terima kasih Deftones!

Text: Febri Haryanto
Docs: Aan Mumu